468x60 Ads

BAHAYA TOMCAT

Serangga Tomcat atau kumbang Rove tidak berbahaya bagi manusia. Tidak benar jika dikatakan racun Tomcat sepuluh kali lebih keras dari bisa ular kobra. Media terlalu melebih-lebihkan bahaya Tomcat. "Tidak bisa diterima logika, jika dikatakan racun Tomcat sepuluh kali lebih keras dari ular kobra. Racun kobra masuk ke dalam darah sementara racun Tomcat hanya ada di kulit, itupun jika tergosok. Jika kena kulit hanya kemerahan saja, sama sekali tidak melepuh seperti diberitakan media," tegas Guru Besar Entomologi (Ilmu Serangga) IPB Soemartono Sosromarsono kepada itoday (22/3). Menurut Soemartono, racun Tomcat tidak akan menempel di kulit manusia jika tubuh Tomcat tidak rusak atau pecah. "Racun Tomcat akan keluar jika tubuh Tomcat dipencet atau terpencet. Saat terpencet, tubuh Tomcat pecah sehingga racun keluar. Saya sering pegang, buktinya tidak ada apa-apa," ungkap Soemartono. Soemartono menyarankan agar masyarakat tak perlu panik dengan isu bahaya Tomcat. Jika menemukan Tomcat, bisa digunakan kantong plastik atau penjepit, kemudian masukkan dalam air deterjen. "Umumnya tubuh serangga berminyak, jika dimasukkan dalam air deterjen langsung tenggelam. Jangan dipithes (dipenyet), karena racunnya justru akan keluar," terang Soemartono. Lebih jauh Soemartono menjelaskan, Tomcat tidak perlu dibasmi berlebihan, karena serangga ini justru menjadi predator sejumlah hama, salah satunya hama wereng. Tomcat sangat suka wereng, bahkan telur-telur wereng juga dimakan. Keberadaan Tomcat, menurut Soemartono, bisa ditemukan di seluruh Indonesia. Penyebaran Tomcat meliputi Australia, Eropa dan Asia terutama di wilayah-wilayah lembab. Sedangkan dari sisi perkembangannya, Tomcat berkembang di segala musim. "Jika dikatakan di Surabaya serangan Tomcat cukup merata, itu karena sawah-sawah sedang dipanen, sehingga serangga ini berpindah. Tomcat tertarik dengan cahaya lampu. Tomcat menyerang kompleks rumah tinggal karena tempat hidupnya di sawah terganggu," ungkap Soemartono. Berdasarkan literatur yang ada, Tomcat memiliki nama ilmiah paederus fuscipes. Menurut entomolog Hoven, yang meneliti serangga di Indonesia pada 1950, penyebaran Tomcat dalam jumlah besar terjadi pada tahun 1908 dan 1915. "Jadi serangan Tomcat ini bukan kejadian baru. Saya tidak setuju bila ini dikatakan ini karena kerusakan lingkungan. Ini karena lingkungan Tomcat di sawah terganggu. Di Indonesia, serangga jenis ini justru penting sekali, karena menjadi predator hama tanaman," pungkas Soemartono.

0 komentar:

Poskan Komentar

Translate