468x60 Ads

KURANGNYA MINAT MEMBACA DI KALANGAN PELAJAR

Komik dipercaya bisa menjadi alat yang cukup efektif dalam menumbuhkan minat baca anak-anak. Lewat komik, anak diajak untuk berimajinasi. Dan, melalui komik pula anak dikondisikan bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan. Dikatakan Ketua Departemen Ilmu Perpustakaan FIB UI, Fuad A. Gani, komik bisa dijadikan pintu masuk bagi peningkatan minat baca anak. Dalam penelitiannya terhadap 500 siswa di 50 sekolah di Jakarta, pada akhir tahun 2003, memperlihatkan kecenderungan bahwa 86 persen dari mereka senang membaca komik. Cerita rakyat dan cerita terjemahan lebih diminati dari pada buku pelajaran paket, kata Fuad. Peluang itulah yang kemudian diupayakan Program Bimbingan Anak Sampoerna (PBAS), lewat program Pustaka Kita, Komik Kita, yang dilangsungkan di Bandung. Minggu (17/7/2005), bertempat di Cihampelas Walk (Ciwalk), sebanyak 100 pelajar dari 32 sekolah (SD, SMP) dan 2 panti asuhan di Bandung, menggelar kegiatan Festival Bikin Komik. Mereka memperlihatkan kebolehannya dalam mewarnai dua buah cerita komik di atas bentangan kain sepanjang 64 meter. Hasil karya mereka inilah yang kemudian akan dipotong-potong untuk dijadikan dua buah buku cerita komik berukuran 115x88cm, masing-masing berjudul Tujuh Besar dan V Robot. Kedua buku komik berukuran raksasa itu, dikatakan Chris Maryanto, konsultan PR PBAS Sampoerna, akan dihibahkan kepada Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Jabar, bertepatan dengan Hari Anak Nasional, pada tanggal 23 Juli mendatang. Festival Bikin Komik, yang digelar Minggu kemarin merupakan puncak dari kegiatan Program Pustaka Kita, Komik Kita. Sebelumnya, para siswa yang tergabung dalam program tersebut diberikan pelatihan membuat komik di bawah mentor dari Majalah Valens dan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMKN 14) sejak tanggal 4-9 Juli 2005. Sebanyak 100 karya komik akhirnya berhasil terkumpul. Karya-karya itu kemudian dipamerkan di kawasan Ciwalk. Menyaksikan karya komik mereka, berarti pula menyaksikan sebuah kejujuran, kelucuan, kepolosan dan ide-ide yang sulit ditebak. Anak memang memiliki dunianya sendiri. Itulah yang tampak dari karya-karya mereka. Ada yang mencoba memaparkan kondisi sosial yang terjadi. Masalah kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM), misalnya tak luput dari sorotan mereka. Atau hal yang konyol dan lucu malah diperlihatkan Fauzan, pelajar SMP Negeri 34 Bandung. Dalam komiknya ia berkisah soal mimpi bersambung. "Saya soalnya pernah mengalaminya. Saya pikir ini bakal cerita yang unik, ya jadinya saya pilih untuk tema cerita," ujarnya. Yang justru konyol malah diperlihatkan salah satu peserta lainnya. Dalam komiknya, ia bercerita soal nyamuk. Pada sebuah hari, seorang bocah digambarkan tengah asyik bermain sendirian di rumahnya. Sayangnya, banyak nyamuk yang seliweran, sehingga membuat si bocah kesal. Lalu, mau tahu apa yang dilakukan si bocah untuk membasmi nyamuk-nyamuk nakal itu? Api disulup dan kemudian rumah itu dibakarnya. Di akhir cerita, ibu si bocah nakal itu memukuli anaknya. Sebuah umpatan kekesalan dilontarkan sang ibu, "Kecil-kecil sudah bakar rumah, apa jadinya kamu nanti." Dikatakan Ketua Koordinator Pelatihan, Mira Rochadi, Anak-anak tidak hanya diajak membuat komik, tetapi juga dibimbing agar bisa menghargai komik karya orang lain. "Membimbing anak untuk mencintai bacaan sebenarnya tidak sulit. Mereka harus dikondisikan bahwa membaca adalah kegaitan yang menyenangkan," katanya. Selain kreasi membuat buku komik, dalam Festival Bikin Komik juga dilangsungkan kegiatan mendongeng interaktif. Anak-anak diminta untuk menggambar cerita yang didongengkan. Acara tersebut diberkan kepada pengujung Ciwalk. "Mendengarkan dongeng juga bagian dari cara menumbuhkan minat baca di kalangan anak-anak," kata Chris. Berbicara soal Komik, memang asyik untuk ditilik. Kehadiran komik bagi penduduk Tanah Air, tentu bukan merupakan barang baru. Komik Indonesia telah hadir sejak tahun 1930, meski pemunculan pertamanya tampil dalam bentuk komik strip di surat kabar. Adalah Sinpo, sebuah surat kabar Melayu-Cina saat itu, yang memulai memperkenalkan komik. Baru di awal tahun 1950-an, untuk pertama kalinya komik muncul dalam bentuk buku, meski hanya merupakan kumpulan komik strip dari surat kabar Daulat Rakyat. Buku komik yang pertama itu berjudul Kisah Pendudukan Jogja karya Abdul Salam. Gairah perkembangan komik baru memperlihatkan taringnya, seiring kehadiran komik-komik superhero di tahun 1953-1960. Banyak karya komik lokal yang dipengaruhi komik-komik superhero dari barat. Adisoma, misalnya menciptakan tokoh rekaan Jakawana dan ada pula tokoh Sri Asih karya RA Kosasih. Sayangnya, komik-komik di era itu dipandang pemerintah lebih banyak mengumbar aksi kekerasan. Hasilnya, dilakukan razia besar-besaran terhadap komik pada saat itu. Komik-komik itu dibakar karena dianggap berbau kebarat-baratan. Patutlah dibanggakan bahwa kita pernah memiliki RA. Kosasih, Ganes TH (Si Buta Dari Goa Hantu), Wid NS (Godam) dan Hasmi (Gundala), Hans Jaladara (Panji Tengkorak), dan Djair (Jaka Sembung), Yan Mintaraga atau Taguan Hardjo, salah satu komikus yang terkenal dengan karya-karyanya seperti Hikayat Musang Berjanggut, Keulana, Perompak Lautan Hindia, dan Kapten Yani. Sayangnya, meski banyak bermunculan komik-komik lokal belakangan ini, namun komik-komik dari Jepang masih tetap mendominasi. Anak-anak Indonesia sekarang justru lebih terpikat komik produk luar ketimbang komik dari negeri sendiri. BUDAYAKAN kegemaran membaca sejak sangat dini. Kebiasaan membaca itu hendaknya bukan saja menjadi milik yang dinikmati sendiri. Lebih dari itu kegemaran membaca harus menyebar di masyarakat. Dengan demikian kebiasaan dan kegemaran membaca itu akan memberi makna bagi masyarakat luas. Membaca menjadi kunci ilmu sehingga kebiasaan membaca menjadi kata kunci untuk membuka seluruh ilmu yang bertebaran di masyarakat. Bukan saja ilmu yang tertuang dalam naskah di perpustakaan melainkan ilmu yang berhamparan di muka peradaban manusia di buka bumi ini. Masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim memiliki kebiasaan membaca, sebagaimana al Quran memperintahkan kepada masyarakat muslim untuk iqra' membaca. Bukan saja membaca secara harfiah menelusuri huruf-huruf yang bertebaran dalam kata dan kalimat. Lebih luas dari makna membaca yang diharapkan, mencari, mendalami dan mengkaji berbagai ilmu di masyarakat. Ilmu yang terhampar dalam kehidupan umat manusia sehingga akan menjadi kekayaan yang sangat besar bagi peradaban dunia.Masyarakat muslim yang memiliki kebiasaan membaca hendaknya lebih mengarah kepada cara membaca secara benar, bukan saja membaca teks yang terhidang dalam sebuah naskah. Lebih dari itu membaca alam dengan seluruh isinya. Membaca dalam pengertian yang seluas-luasnya. Dengan demikian akan memperoleh manfaat yang lebih banyak dari sebatas ilmu yang ada dalam literatur. Kualitas membaca belum sebanding dengan kuantitas bacaah sehingga seperti disaksikan saat ini kualitas manusia Indonesia sangat rendah, terutama di kalangan remaja. Kuantitas membaca belum sebanding dengan kualitas sehingga terjadi ketimpangan antara jumlah bacaan dan isi yang dikandungnya. Rendahnya kualitas generasi muda Indonesia antara lain disebabkan minat baca masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah. Kondisi itu ditambah budaya lisan di masyarakat yang masih kuat, dibandingkan dengan budaya baca tulis. Mulai dari usia dini sampai usia dewasa, budaya lisan lebih kuat sehingga wawasan mereka menjadi kurang berkembang. Kalau ingin membangun bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan berkualitas, sejak dini anak-anak Indonesia harus dipacu untuk gemar membaca. Melalui buku-buku yang dibaca akan timbul suatu wacana baru dan akan membuka cakrawala berfikir anak-anak ini, sehingga mereka akan menjadi generasi muda yang berkualitas dalam menyongsong era globalisasi. Hal itu terungkap dalam dialog interaktif antara Wakil Ketua I Yayasan Damandiri Prof Dr H Haryono Suyono dengan peserta Lomba Nasional Gemar Membaca Tingkat SD,SMP, dan SMA yang datang dari 18 propinsi di Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu. Kegiatan yang diselenggarakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Perpustakaan bekerjasama dengan Yayasan Dana Sejahtera Mandiri ini, diharapkan dapat ditularkan kepada masyarakat luas, untuk membangun masyarakat yang lebih sejahtera. Dengan gemar membaca pengetahuan yang mereka dapatkan bukan hanya untuk kepentingan mereka sendiri, tapi juga mereka dapat membacakan untuk orang lain yang ada disekitar mereka. Hal ini terjadi karena masih banyak anak-anak disekitar mereka yang kurang beruntung dan tidak dapat melanjutkan sekolah seperti mereka. Bukan hanya itu, para pemenang lomba gemar membaca ini juga dapat menjadi pendamping mereka yang tidak bersekolah dengan cara membentuk kelompok-kelompok belajar dan saling tukar menukar cerita dan pengalaman. Dalam kegiatan ini mereka tidak hanya dituntut untuk pandai membaca saja, tapi juga dilatih bagaimana mengerjakan sesuatu secara team work (bersama-sama). Kegiatan ini merupakan suatu moment yang sangat penting bagi upaya peningkatan kualitas generasi muda Indonesia di masa depan melalui kegiatan gemar membaca. Dari berbagai penelitian disebutkan rendahnya kualitas generasi muda Indonesia dikarenakan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia mulai dari usia dini sampai usia dewasa, sehingga wawasan mereka menjadi kurang berkembang. Tahun 2005 ini diharapkan kemiskinan dapat diturunkan separohnya, kesehatan juga akan lebih baik, dan masyarakat yang buta aksara juga akan menurun, terlebih dengan generasi muda yang gemar membaca mereka akan menjadi aset yang berharga bagi keluarganya, dan masyarakat disekitarnya. Selain itu mereka juga akan menjadi sumber kehidupan, termasuk ibu-ibu yang buta aksara, mereka mungkin bisa menjadi pendamping belajar di kelompok Kejar Paket A yang banyak berdiri di berbagai pelosok tanah air. Kesempatan ini harus disongsong dengan sebaik-baiknya. Kalau dilihat dari minimnya jumlah peserta yang datang ke Jakarta, mungkin lebih disebabkan karena minimnya dukungan Pemda. Ia harus mengeluarkan koceknya sendiri, baik untuk biaya transportasi maupun biaya hidup dirinya bersama putri tercintanya. Sampai kini dari Pihak Pemda NTB sama sekali belum memberikan dukungan baik moril maupun materil, padahal sangat disayangkan bila ada siswa yang potensial dalam dunia pendidikan tidak disertakan dalam lomba yang sifatnya nasional seperti Lomba Nasional Gemar Membaca 2005 ini. Tahun 2005 ini diharapkan kemiskinan dapat diturunkan separohnya, kesehatan juga akan lebih baik, dan masyarakat yang buta aksara juga akan menurun. Terlebih dengan generasi muda yang gemar membaca, mereka akan menjadi aset yang berharga bagi keluarganya, dan masyarakat di sekitarnya. Selain itu mereka juga akan menjadi sumber kehidupan, termasuk ibu-ibu yang buta aksara, mereka mungkin bisa menjadi pendamping belajar di kelompok Kejar Paket A yang banyak berdiri di berbagai pelosok tanah air. Kesempatan ini harus disongsong dengan sebaik-baiknya. Kesimpulan: Dari data di atas kita dapat mengetahui minat membaca di indonesia masih rendah,kita dapat menumbuhkan minat membaca dengan 2 cara diatas. Saran: Seharusnya minat membaca harus digalakkan sejak kita masih dini.

0 komentar:

Poskan Komentar

Translate