468x60 Ads

TAWURAN ANTAR PELAJAR

Tawuran pelajar pekan ini kembali memanas. Para pelajar yang semestinya menjadi garda terdepan generasi penerus bangsa malah mengedepankan kekerasan fisik daripada intelektualitas. Para pelajatr mengenakan seragam sekolah tapi bak bergaya preman jalanan. Di antarana main hakim sendiri, merusak fasilitas umum, bahkan saling melukai satu sama lain. Kasus tawuran pelajar SMA Negeri 6 dengan wartawan menjadi puncaknya. Seorang wartawan dikeroyok sejumlah siswa berseragam dan kaset berisi rekaman peristiwa tawuran juga ikut dirampas [baca: Suasana Memanas, Wartawan-Siswa SMA 6 Bentrok]. Sontak aksi anarkis siswa SMAN 6 Jakarta ini memunculkan aksi demo yang mengecam tindakan kekerasan di dunia pendidikan. Tidak hanya itu solidaritas juga datang dari para jurnalis yang mengecam agar pelaku penganiayaan terhadap wartawan harus ditindak tegas tanpa pandang bulu. Kekerasan tentu saja bukan jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan. Namun jika tawuran selalu terjadi berulang kali dan menjadi sebuah tradisi, tampaknya sudah waktunya pemerintah turut andil. Adakah yang salah dengan dunia pendidikan di Indonesia. Menjadi pertanyaan banyak orang mereka justru melakukan aksi tawuran di lingkungan sekolahnya sendiri. Dimanakah guru dan kepala sekolah mereka. Tawuran justru mendatangkan banyak kerugian materil, seperti kerusakan fasilitas umum hingga diliburkannya kegiatan belajar mengajar. Pada akhirnya tawuran hanya akan menghabiskan energi sia-sia tanpa bisa menghasilkan sebuah prestasi melainkan citra negatif nama sekolah.(IAN)

0 komentar:

Poskan Komentar

Translate