468x60 Ads

NASIB ANAK JALANAN

* Hari Anak Sedunia yang jatuh hari Kamis (20/11/08) seharusnya menjadi titik tolak untuk meningkatkan kepedulian sekaligus memperhatikan hak anak. Namun kenyataannya masih banyak anak Indonesia yang belum mendapat kehidupan dan pendidikan layak. Di usia sekolah mereka justru berkeliaran di jalan demi menghidupi keluarga. Meski nada dan iramanya meleset, namun ketiga anak jalanan ini terus bersemangat menyanyikan sebuah lagu pop. Dengan bergembira mereka berupaya menghibur para pengguna jalan untuk sekedar mendapatkan uang receh. Bagi ketiganya, Hari Anak Sedunia yang dirayakan hari ini sama seperti hari biasa. Mereka tidak memahami hari yang dipersembahkan untuk kepentingan hak anak di dunia. Bahkan hari ini mereka membolos demi bisa menghidupi keluarganya. Kerasnya kehidupan jalanan sedikit banyak telah mempengaruhi kehidupan mereka. Suradi, Husin dan Agi, kini tidak lagi memiliki cita-cita yang muluk layaknya anak-anak lain. Ruang gerak anak jalanan dalam mencari uang kini semakin terbatas seiring dengan berbagai operasi yang digelar petugas keamanan. Dalam keterbatasan itu mereka tetap berupaya demi keluarga, tanpa memikirkan seperti apa masa depan mereka di kemudian hari. (Winduti Astuti dan Heru Desembri/Sup)... * Nasib Anak Jalanan di Indonesia Bagi masyarakat Indonesia, anak jalanan merupakan sosok manusia yang hidupnya dianggap tidak berguna dan serba terabaikan. Bahkan tak jarang, mereka diusir dari tempat keramaian dengan cara kekerasan dan bentakan-bentakan dengan suara atau kalimat yang menyakitkan hati. Ini karena anak jalanan diangap sebagai orang yang memalukan dan mengganggu ketenangan bagi masyarakat. Kehidupan para anak jalanan (anjal) pasti tak lepas dari jalanan, trotoar, terminal bus, stasiun kereta api, dan warung-warung, bahkan tak jarang kita menemukan mereka di berbagai sudut-sudut kota. Kebayakan dari mereka melewati hari-harinya dengan jauh dari rumah tinggal sekadar untuk mencari nafkah. Pekerjaan mereka tiap hari adalah mengamen, mengemis, dan bahkan tidak jarang ada sebagian dari mereka yang nekat melakukan pencurian dan berbagai tindak kriminal lainnya. Mereka melakukan pekerjaan itu hanya untuk mendapatkan sesuap nasi demi menyambung hidup. Kendati demikian, tak begitu banyak orang yang peduli dengan nasib para anjal ini, termasuk pemerintah. Bahkan pemerintah cenderung menutup mata melihat semua aktivitas yang dialami para anjal. Padahal, negara punya tugas (kewajiban) mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai martabat manusia. Namun, mengapa anak jalanan dalam hal ini dikesampingkan? Bukankah anak jalanan juga termasuk dalam kategori rakyat yang lemah dan harus banyak mendapatkan perhatian pemerintah? Akibat acuhnya pemerintah, nasib para anak jalanan semakin terombang-ambing dan tidak menentu. Mereka tidak mendapatkan kehidupan yang layak. Di Yogyakarta, misalnya, hampir di setiap perempatan-perempatan jalan kita bisa melihat keberadaan para anak jalanan. Bahkan tidak menutup kemungkinan, anak jalanan sudah merambah di berbagai wilayah di DI Yogyakarta lainnya. Dan, anak jalanan sebenarnya telah berada di mana-mana, terutama di kota-kota besar. Di Jakarta, misalnya, jumlah anak jalanan sangat luar biasa banyaknya. Mereka bisa ditemui di perempatan-perempatan jalan atau di sekitar terminal. Kebanyakan dari anak jalanan ini masih berumur di bawah sepuluh tahun dan mereka seharusnya membutuhkan kehidupan yang layak dan juga masih harus mendapatkan pendidikan secara intensif di sekolah. Akibat nasib buruk yang mereka alami, dan kurang mendapatkan perhatian secara langsung dari pemerintah, mereka harus melewati masa kecilnya dengan berada di sudut-sudut jalanan, di terminal, di stasiun, di lorong-lorong kota, atau di pasar-pasar, dengan kondisi kehidupan yang sengsara dan menderita. Mereka juga tidak mengenyam bangku pendidikan di sekolah seperti anak-anak seumur mereka, yang setiap hari berseragam rapi untuk belajar di sekolah. Disadari atau tidak, kehidupan anak jalanan kurang mendapat respons positif dari masyarakat dan pemerintah. Mereka dianggap sebagai "sampah" masyarakat yang harus dijauhi. Tapi yang perlu diingat, anak jalanan itu juga manusia biasa yang juga butuh makan, minum, kasih sayang dan juga perhatian, layaknya seperti kebanyakan orang yang lain. Tapi mengapa mereka selalu dijauhi masyarakat? Kita hidup di Indonesia memiliki tatanan hidup masyarakat yang penuh jiwa sosial. Kita tidak akan bisa bertahan hidup di dunia ini tanpa bantuan orang lain. Sudah menjadi tabiat manusia yang saling memiliki rasa ketergantungan satu dengan yang lain. Tapi, realitanya kini banyak orang yang kurang memperhatikan nasib anak jalanan, bahkan melupakan sosok manusia yang hidupnya serba kekurangan dan selalu menderita setiap saat ini. Menurut survei yang dilakukan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), 35 persen dari anak jalanan melakukan semua pekerjaan bukan hanya atas keinginan sendiri atau hanya untuk sekadar mengisi perut mereka sendiri. Mereka melakukan semua pekerjaan itu untuk membantu pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga yang semakin hari semakin melemah. Jadi jelas bahwa para anak jalanan melakukan semua pekerjaan itu, seperti mengamen di warung-warung makan, di kereta api, di depan rumah-rumah, bahkan mereka sampai nekad melakukan pencurian, perampokan, atau tindak kriminal lainya, bukan semata-mata atas kemauan mereka sendiri. Mereka melakukan semua itu karena didesak faktor ekonomi keluarga yang semakin hari semakin tak menentu. Masalah anak jalanan secara tidak langsung memang diabaikan masyarakat. Mereka juga kurang mendapat perhatian dari masyarakat dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Dalam hal menangani anak jalanan, pemerintah masih kurang memperhatikan secara serius tentang nasib mereka. Hal itu terlihat dengan jelas, bahwa sekarang ini masih banyak sekali kita temui anak jalanan bukan hanya di sudut kota-kota besar saja, namun sudah mulai memasuki pinggiran kota dan kota-kota kecil. Memang, kalau kita cermati, kehidupan anak jalanan serba menderita dan kekurangan, karena pekerjaan mereka tak menentu dan serabutan. Akibatnya, bukan kehidupan mereka yang semakin hari semakin membaik dan mendapatkan penghidupan yang layak sesuai dengan apa yang digembor-gemborkan pemerintah, justru nasib mereka sebaliknya. Karena mereka setiap hari selalu disuguhi kenaikan bahan-bahan pokok yang tidak bisa terjangkau oleh keluarga anak jalanan. Dalam hal ini, pemerintah harus bisa secara cepat mengatasi problem yang dihadapi anak jalanan agar mereka tidak merasa dihina dan diasingkan oleh masyarakat. Sekali lagi, mereka butuh perhatian dan kasih sayang dari kita semua, dan tentu menjadi kewajiban negara untuk secara serius menangani mereka. Dengan demikian kesejahteraan di Indonesia dapat dirasakan oleh semua pihak, termasuk anak-anak jalanan, tanpa adanya perbedaan status sosial yang disandangnya.*** Oleh : Miftahul A'la Kamis, 24 Juli 2008 Penulis adalah direktur pada Center for Politic and Law Studies (CPLS) Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta... Gema takbir berkumandang, ada perasaan terenyuh dalam hati Siswandi saat mendengarnya. Terbayang orang tua dikampungnya, ada perasaan rindu kepada mereka. Ingin sekali dia pulang kampung sebagaimana orang-orang kebanyakan. Tapi kerinduan itu dia kesampingkan. Siswandi menganggap ada yang lebih penting dari sekedar melampiaskan kerinduan kepada kampung halaman atau orang tuanya. Siswandi lebih memilih mendampingi anak-anak jalanan yang selama ini dia bina. ”Saya memilih menjadi pengganti orang tua anak-anak itu,” ujarnya lirih. Siswandi adalah seorang pegiat sosial yang peduli terhadap nasib anak-anak jalanan. Mulai menangani anak-anak jalanan sejak 1993. Tidak sekali itu saja Siswandi melakukan itu, pada lebaran-lebaran berikutnya Siswandi sering melakukannya. Pada suatu malam lebaran, Siswandi dibuat terenyuh oleh pertanyaan dari salah satu anak binaannya. ”Kak kapan ya kita punya rumah sendiri?”. Siswandi terdiam mendapat pertanyaan tersebut. Dalam diamnya Siswandi berdoa kepada Tuhan untuk mengabulkan keinginan anak tersebut. Sebuah keajaiban terjadi, beberapa hari kemudian dia ditelepon oleh seorang temannya yang mau mendonasikan uang untuk mengontrak rumah bagi anak-anak jalanan binaannya. ”Ini menambah keyakinan saya, kalau kita beritikad baik Allah akan menolong kita,” ucapnya. Siswandi bukanlah seorang yang berasal dari keluarga mampu. Dia terlahir di Lamongan dari keluarga sederhana. Ibunya seorang pedagang kecil, sedang bapaknya seorang nelayan. Sebuah prestasi bagi keluarga tersebut saat dua anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan di Pendidikan Guru Agama (PGA) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Tapi karena ketidakmampuan keluarga tersebut, anak terakhir dari keluarga tersebut hanya sekolah sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP). Buat Siswandi Ibu dan bapaknya adalah tauladannya, menurutnya kedua orang tuanya mempunyai tingkat survivor yang sangat tinggi. ”Ibu saya, setiap pagi jualan nasi, siangnya jualan rujak dan malam hari jualan kue-kue kering. Tidak pernah berhenti. Sementara saat bapak saya datang membawa ikan-ikan tangkapan, ibu saya membelah ikan-ikan itu. Luar biasa semangat untuk menghidupi anak-anaknya. Bagi saya dia ibu yang luar biasa, dasyat.” lanjutnya. Saat lulus SMA Siswandi ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, tapi karena orang tuanya tidak mampu membiayai, Siswandi mengurungkan niatnya. Di daerah asalnya Siswandi melamar pekerjaan dan akhirnya dia diterima bekerja di sebuah studio foto. Siswandi senang bekerja si studio foto tersebut. Selama bekerja di studio foto tersebut Siswandi merasa mendapat pelajaran hidup yang terkait dengan kemandirian. ”Tanpa saya sadari itu merupakan salah satu proses hidup yang akhir-akhir ini saya lihat sangat bermanfaat,” ujarnya. Keinginan kuliah Siswandi demikian besar, karena itu kemudian Siswandi memutuskan keluar kerja dan merantau ke Jakarta. ”Pada 1993 saya ke Jakarta, tanggal 23 Juli, saya masih ingat,” lanjutnya. Di Jakarta Siswandi kuliah di lembaga dakwah Al Qalam. Sambil kuliah dia bekerja di lembaga tersebut. Selain itu Siswandi juga mengajar les private. Di Jakarta Siswandi tinggal di Jatibaru, berdekatan dengan rel kereta. Setiap dia pulang kuliah atau mengajar private dia mendapati anak-anak disekitar rumah kontrakannya tidak ada yang memberikan pembinaan keagamaan. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak pemulung, tukang sampah, anak-anak pengasong, penyemir sepatu dan lain-lain. Siswandi tergerak untuk mengajar mengaji anak-anak tersebut. Kemudian dia mengumpulkan anak-anak itu. ”Saya ajak anak-anak tetangga kontrakan saya, sekitar 5 – 6 anak terkumpul, tapi setelah berjalan beberapa lama, 50 anak, bahkan lebih ikut belajar ngaji bersama saya. Kegiatan yang kami adakan belajar membaca Al Quran, belajar tentang agama dan nasyid,” jelasnya. Pada 1997 Siswandi pindah tempat tinggal, dan meninggalkan anak-anak binaannya. Krisis Ekonomi Menambah Anak Jalanan Krisis ekonomi Indonesia yang dimulai 1997, mengakibatkan kesengsaraan bagi rakyat kecil. Di jalanan semakin banyak ditemui para pengemis dan pengamen, baik orang tua maupun anak-anak. Kondisi tersebut menggugah rasa kemanusiaan Siswandi. Dia tergerak untuk membantu mereka. Bersama teman-temannya dari Himpunan Mahasiwa Muslim Antar Kampus (HAMMAS) dia mengumpulkan anak-anak jalanan. Mereka mengontrak rumah di Cipinang Campedak, di belakang Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nusantara, sebagai tempat singgah anak-anak jalanan. Ada sekitar 15 anak yang dibina oleh Siswandi dan teman-temannya. Tapi beberapa bulan berjalan, terjadi perbedaan visi antara Siswandi dan beberapa temannya. Hal ini membuat Siswandi diusir oleh teman-teman yang lainnya. Situasi tersebut terasa menyakitkan buat Siswandi. ”Semula saya ingin pulang ke kampung karena kesulitan-kesulitan itu, tapi kemudian saya urungkan,” jelasnya. Siswandi kemudian mengontrak rumah lain dan membawa beberapa anak jalanan yang setia kepadanya. ”Ada mis komunikasi, saya dianggap membuat keputusan di luar musyawarah. Padahal tujuan saya improvisasi. Dalam hidup ini kan perlu improvisasi,” jelasnya menerangkan penyebab perpecahan dia dan teman-temannya. Mendirikan HIMMATA Pasca perpecahan itu Siswandi tetap melanjutkan kepeduliannya terhadap anak-anak jalanan. Siswandi dan istrinya, Nurida, bertemu dengan AM. Muthada dan Sarkono. Pertemuan berlanjut pada kesepakatan untuk membuat lembaga yang akan melakukan pembinaan terhadap anak-anak jalanan. Pada Agustus 2000, dibentuklah Himmata. Mereka mengontrak rumah di daerah Plumpang, dengan modal uang pinjaman. Rumah tersebut dijadikan sebagai base camp aktivitas dan tempat tinggal dan tempat singgah anak-anak jalanan. Tidak ada peralatan masak yang mereka miliki, demikian juga alas untuk tidur, hanya beberapa tikar. Pakaian mereka disimpan di kardus, karena mereka tidak mempunyai lemari pakaian. Siswandi saat itu tidak bekerja, sementara kebutuhan makan anak-anak jalanan yang mereka bina juga menjadi tanggungjawabnya. Untuk itu dia berusaha mendapatkan pinjaman. Siswandi sedih saat dia tidak mendapatkan pinjaman itu, tapi Siswandi sekali lagi tidak menyerah. Dia yakin itikad baik akan mendapat pertolongan dari Allah. Perjalanan berat dia lalui selama setahun, setelah itu semakin banyak orang yang bersedia menjadi donatur untuk Himmata. Walaupun kemudian, dia mendapat ujian lain. Rumah yang selama ini dikontrak untuk aktivitas Himmata akan dijual oleh pemiliknya, dengan harga 300 juta. Pilihannya, mereka beli rumah itu atau pindah ke tempat lain. Karena tidak mempunyai dana, akhirnya mereka mengontrak rumah di tempat lain, tidak jauh dari rumah lama. Pada Ramadhan 2001 anak-anak binaan Himmata mulai mendapat undangan untuk tampil mengisi acara buka puasa. Sejak saat itu Himmata mulai dikenal oleh banyak orang. Karenanya Taman Pendidikan Al Quran (TPA) yang mereka kelola muridnya semakin bertambah, bukan saja anak-anak jalanan tapi juga anak-anak dari masyarakat di sekitar sekretariat Himmata. Pada 2005, Himmata kembali ke rumah lama, bahkan dengan bangunan yang lebih baik. Himmata mampu membeli rumah lama yang dari awal memang mau dijual, dengan harga yang lebih murah, 150 juta. Setelah dibeli, rumah itu kemudian direnovasi. Selain itu dalam waktu yang tidak lama Himmata mulai membangun gubug-gubug yang selama ini menjadi sekolah mereka, dengan bangunan yang lebih baik dan permanen. ”Sebelum dibangun, sekolah Himmata lebih jelek dari sekolah anak-anak laskar pelangi,” jelas Siswandi. Anak Jalanan Anak Cerdas Menangani anak-anak jalanan tidaklah mudah, terutama karena mobilitas mereka dan uang yang mereka dapatkan dari mengamen atau meminta-minta. Sementara tinggal berada di rumah singgah, khususnya di Himmata mereka tidak akan mendapatkan itu. Karenanya Siswandi sering mendapati anak-anak yang keluar masuk ke rumah singgahnya. Bahkan Siswandi sering mendapati anak-anak yang terlihat sudah menikmati berada di Himmata, dan sudah ikut sekolah, tiba-tiba menghilang, dan kembali kejalanan. Untuk mengurangi keluar masuknya anak-anak jalanan dari rumah singgahnya, Siswandi secara berkala mengadakan training. ”Kami coba ubah pola pikirnya, bahwa kalau mereka ingin mengubah hidupnya, jalanan bukan tempatnya,” ujar Siswandi. Setelah hampir sepuluh tahun Himmata berdiri, saat ini Himmata tidak hanya meng suskan pembinaan kepada anak-anak jalanan, tapi juga anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu di sekitar Plumpang, Jakarta Utara. Salah satu program yanng cukup berhasil diselenggarakan adalah sekolah non formal kejar Paket A, B dan C. Saat ini muridnya mencapai 600 anak lebih. Untuk program anak-anak jalanan, selain memfasilitasi tempat tinggal, sandang, pangan dan papan, Himmata memberikan pendidikan baik formal maupun non formal. Untuk mengisi waktu luang agar anak-anak tidak kembali ke jalanan, Himmata melengkapi dengan pendidikan seni musik dan kreatifitas. Hal ini dimaksudkan untuk menyalurkan bakat kesenian dan kreatifitas anak-anak. Dalam pandangan Siswandi, seni adalah jembatan untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak. Program seni musik yang diadakan: pelatihan olah vokal, teknik bermain musik, biola, perkusi, angklung bahkan membentuk group band Himmata. Saat ini anak-anak binaan Himmata sering mengisi acara diminta mengisi acara, terutama saat bulan ramadhan. Sesekali, mereka juga mengadakan pentas dengan melakukan kerjasama dengan lembaga lain. Beberapa kali pestival sudah diadakan, termasuk pentas berkolaborasi dengan penyanyi terkenal Ita Purnamasari dan lain-lain. Hari Anak Sedunia yang jatuh hari Kamis (20/11/08) seharusnya menjadi titik tolak untuk meningkatkan kepedulian sekaligus memperhatikan hak anak. Namun kenyataannya masih banyak anak Indonesia yang belum mendapat kehidupan dan pendidikan layak. Di usia sekolah mereka justru berkeliaran di jalan demi menghidupi keluarga. Meski nada dan iramanya meleset, namun ketiga anak jalanan ini terus bersemangat menyanyikan sebuah lagu pop. Dengan bergembira mereka berupaya menghibur para pengguna jalan untuk sekedar mendapatkan uang receh. Bagi ketiganya, Hari Anak Sedunia yang dirayakan hari ini sama seperti hari biasa. Mereka tidak memahami hari yang dipersembahkan untuk kepentingan hak anak di dunia. Bahkan hari ini mereka membolos demi bisa menghidupi keluarganya. Kerasnya kehidupan jalanan sedikit banyak telah mempengaruhi kehidupan mereka. Suradi, Husin dan Agi, kini tidak lagi memiliki cita-cita yang muluk layaknya anak-anak lain. Ruang gerak anak jalanan dalam mencari uang kini semakin terbatas seiring dengan berbagai operasi yang digelar petugas keamanan. Dalam keterbatasan itu mereka tetap berupaya demi keluarga, tanpa memikirkan seperti apa masa depan mereka di kemudian hari. seharusnya kita yang mempunyai harta yang lebih lebih baik kita sedikit sumbangkan untuk anak2 jalanan ,, karena jika mengeluarkan harta kita sedikit untuk anak jalanan kita tidak rugi karena ada sebagian anak jalanan cerdas .. dan kebanyakan nasib anak jalanan tidak beruntung walaupun dia memepunyai talenta dan otak yang cerdas ,, semoga pemerintah lebih memperhatikan anak jalanan yang nasibnya masih terlantar ~!

0 komentar:

Poskan Komentar

Translate