468x60 Ads

JAKARTA KOTA METROPOLITAN

Kota Jakarta berkembang dari yang awalnya hanyalah sebuah kota Pelabuhan di abad 16 menjadi salah satu kota modern dunia di abad 21. Perkembangan yang terjadi selama abad 20 mulai menyebabkan Kota ini menjadi salah satu pusat pertumbuhan Indonesia dan Dunia. Hal ini disebabkan oleh dua alasan, pertama faktor historis dan geografis, yang kedua adalah faktor politik yang dibangun oleh rezim orde baru. Hal ini diawali pertama kali saat ketika Cornelis de Houtman menjejakkan kaki di pelabuhan Sunda Kelapa, maka saat itu adalah menjadi momen pertama Jakarta menjadi bagian dari sistem kota-kota dunia. Hampir 80% kegiatan ekonomi global yang ada di Indonesia, berada di Jakarta. Hampir seluruh kantor pusat kegiatan perbankan berlokasi di Jakarta. Dan nyaris 60% perputaran uang di negara ini terjadi di Jakarta. Letaknya yang strategis, untuk konteks lalulintas barang-jasa dunia, dan posisi historisnya sebagai bandar internasional mengakibatkan hal ini terjadi. Perkembangan yang sangat pesat merambar ke wilayah sekitarnya dan mengakibatkan terjadinya fenomena ”konurbasi ” antara Jakarta dengan Tangerang, Bekasi dan Bogor. Menyatunya Jakarta dengan kota-kota di sekitarnya melahirkan keuntungan ekonomi yang sangat besar dalam konteks pengembangan wilayah, akan tetapi di sisi lain hal ini diikuti oleh persoalan—persoalan seperti, kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, kawasan kumuh, kemacetan, degradasi lingkungan dan lain sebagainya. Sebagai sebuah Provinsi dengan dana APBD mencapai 18 Trilyun Rupiah, bukan angka yang kecil namun faktanya hingga saat ini DKI Jakarta belum mampu melaksanakan manajemen kependudukan yang solutif. Manajemen kependudukan selayaknya menjadi fondasi dasar dalam melaksanakan manajemen kota. Akan tetapi perlu diperhatikan pula, manajemen kependudukan yang dilakukan seharusnya dilaksanakan secara sederhana dan integratif. Sederhana berarti tidak berbelit dan mudah secara prosedural. Integratif dalam artian menjadi landasan bagi dinas-dinas dalam memberikan pelayanan. Seringkali sistem kependudukan yang disusun belum menjadi dasar dalam melakukan pelayanan dasar, seperti kesehatan, pendidikan, pajak, pilkada, raskin, BLT dan lain sebagainya. Bisakah Jakarta menjadi kota Metropolitan Dunia, seperti New York, Singapura atau Paris? Pemprov DKI Jakarta saat ini tengah berupaya keras untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota metropolitan berkelas dunia. Jakarta pun berupaya keras untuk menyandang status tersebut. Untuk itulah dibentuk Proyek Inisiatif Jakarta 21 (The Jakarta Initiative) yang melibatkan Pemerintah Jerman di dalamnya. Salah satu upaya yang dilakukan dengan membentuk Proyek Jakarta 21 yang bertemakan, Menuju kota metropolitan yang berkelanjutan dan berorientasi transit. Melalui proyek ini, Pemprov DKI Jakarta yakin Jakarta dengan potensinya mampu dan berhasil mewujudkan harapan tersebut. Untuk mewujudkan kota metropolitan kelas dunia, berbagai upaya telah dilakukan Pemprov DKI Jakarta. salah satunya menggandeng Pemerintah Jerman untuk mewujudkan hal tersebut. Jika di abad ke-19 dan 20, Kota Paris dan Kota New York menjadi kota metropolitan berkelas dunia, maka di abad ke-21 banyak pihak yang meramalkan salah satu kota di Asia akan menjadi kota metropolitan berkelas dunia. Jakarta dikenal juga sebagai satu kota terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah penduduk yang hampir mencapai 10 juta jiwa. Wilayah metropolitan yang selanjutnya disebut Jabodetabek juga termasuk lima terbesar di dunia dengan jumlah penduduk lebih dari 27 juta jiwa. Dampak bagi kebangkitan Jakarta dalam penyediaan infrastruktur kota. Dibalik kemajuan itu, seperti kota-kota besar lainnya, Jakarta juga mengalami dampak kemajuan yang kurang positif seperti polusi udara, ekspansi kawasan perkotaan, dan infrastruktur yang tidak selalu sejalan dengan laju pertumbuhan kota yang pesat. Pengamat tata kota dari Universitas Tarumanegara, mengungkapkan syarat sebuah kota menjadi kota metropolitan adalah memiliki ruang kota, transportasi publik dan ruang terbuka hijau RTH yg baik. “ Ruang kota seperti tempat pertunjukkan yang berkelas semacam Esplanade di Singapura harus ada. Jadi kota tidak hanya sebagai pusat bisnis tapi juga pusat budaya. Sehingga level pekerja yang bekerja di kota lebih tinggi dibanding pekerja di kota lain, ” Ungkap Pengamat Tata kota dari Universitas Tarumanegara. Persoalan klasik sebuah kota Jakarta kota metropolitan lainnya di seluruh penjuru Dunia adalah transportasi. Tidak mampunya jalan menampung kendaraan yang ada dan ditambah dengan kurangnya transportasi publik dengan kualitas yang baik bagi kehidupan sehari-hari warga DKI dan sekitarnya. Kemacetan yang ada mengakibatkan waktu produktif yang berkurang, ongkos transportasi yang besar (bahan bakar, biaya perawatan mobil, dll) dan ketidaknyamanan untuk berkegiatan di Kota Jakarta. Restriksi kendaraan bermotor di jakarta selayaknya sudah mulai dipikirkan. Rencana monorail dan subway yang akan dilakukan PEMDA DKI selayaknya kita dukung guna mengatasi masalah transportasi di Indonesia Masalah-masalah tersebut sebaiknya harus dapat diselesaikan saat ini , karena apabila tidak maka di masa depan Metropolitan Jakarta tidak akan memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan kota-kota lain di dunia, seperti Tokyo, New York, Singapura dan lain-lain.

0 komentar:

Poskan Komentar

Translate